Minggu, 29 September 2019

NOVEL "RINDU" (Prolog) By : Ali Akbar Navis


pdf novel, download novel, buku novel, cerita novel, resensi novel.


NOVEL "RINDU"

Sanggupkah engkau menjadi pelabuhan rinduku?

Karya : Ali Akbar navis.


PROLOG

Dentuman hujan berjatuhan dari ujung langit yang menggelap gulita di atas sana. Suaranya memecah kesunyian malam yang pekat itu.

Ditambah lagi hawa dingin yang menusuk tulang pun memeluk dengan penuh kelembutan. Membuat setiap kapal rindu yang berlayar ingin sesegera mungkin menemukan pelabuhan yang dinantikannya.
Begitu juga dengan sesosok pria rupawan yang kesalehannya terpancar dengan jelas dari raut wajahnya yang bersih dan bercahaya. Seakan ada obor yang meneranginya diantara pekat gelapnya malam itu.
Dengan mata terpejam, ia masih tak kuasa menahan  kerinduannya kepada sang pencipta yang meluap-luap dan membanjiri Masjid Al Imdad dengan pujian mengagungkan-Nya. Hingga suara kilat yang menyambar-nyambarpun tidak mampu mengusik keromantisannya dengan sang pemilik langit dan bumi saat itu.
Tangan kanannya masih terus menggerakkan sekuntum mawar tasbih yang terus merekahkan pujian keagungan kepada Allah Swt. Senada dengan lisannya yang terus melantunkan dzikir untuk mengagungkan kebesaran-Nya tanpa henti.
Dia adalah Hasan. Putra satu-satunya Kyai Zahid, Imam Besar masjid yang sedang ia tempati sekarang. Kesalehannya sudah tidak diragukan lagi. Ditambah lagi dengan anugerah fisik dan ketampanan yang Allah Swt berikan, menjadikan dirinya itu sebagai pusat perbincangan para gadis di daerahnya.
Tidak hanya itu, hampir setiap orang tua gadis di daerah itu sangat berkeinginan untuk menjadikannya sebagai menantu. Namun entah apa, mengapa dan bagaimana. Hasan sama sekali tidak tertarik dengan para perawan yang siap menjadikannya raja diraja di dunia ini.
Padahal dia memiliki segalanya. Kelebihan harta dan jabatan pekerjaan Hasan yang tinggi semakin membuatnya bagaikan magnet yang menarik hati setiap gadis untuk jatuh cinta dan berebut untuk mendapatkan.
Namun semua itu tidak membuat Hasan menjadi takabur dan lupa diri kepada Allah Swt. Sebaliknya, Hal tersebut menjadikannya semakin taqwa dan taat kepada-Nya.
Benar-benar seorang calon suami yang sangat ideal dan didamba-dambakan oleh setiap gadis yang sekarang sudah siap menikah!
Brakkk!!
Tiba-tiba saja terdengar suara agak keras dari serambi masjid yang langsung membuat Hasan terperanjat. Ia lalu mengakhiri dzikirnya kepada Allah Swt. Kemudian dengan setengah berlari dia segera menuju ke arah sumber suara.
MasyaAllah …
Dia kaget setengah mati!
Dipandanginya dengan seksama sambil menarik nafas yang panjang dan dalam. Di depannya tergeletak seorang gadis berparas menawan yang pucat pasi dan sedang menggigil kedinginan. Mungkin dia sangat kedinginan. Terlihat tubuh dan pakaiannya basah kuyup, seperti sudah lama bermadikan air hujan yang sangat deras itu.
Hasan mendekatinya, ia ingin sesegera mungkin menolong gadis itu, namun ia masih canggung. Terjadi dilema batin yang luar biasa di hatinya. Antara ingin menolong dan tidak.
Selama ini Hasan tidak pernah memandang wanita dengan sedekat ini. Bahkan selama ini kulit tangannya belum pernah bersentuhan dengan wanita manapun yang bukan mahromnya. Akankah Hasan sekarang harus menolongnya? Yang berarti dia harus menyentuh tubuh wanita itu? Dan luntur sudah kehati-hatiannya selama ini terhadap wanita yang bukan mahromnya?!
Dia ingin berteriak dan meminta pertolongan. Namun siapa yang akan menolongnya? Sedangkan Masjid Al Imdad sendiri letaknya sangat jauh dari pemukiman. Tepatnya adalah dekat persawahan. Ditambah lagi sekarang sudah menunjukkan waktu sekitar pukul 23.17. Pasti tidak ada yang akan mendengarnya.
Sedangkan sekarang di depannya tergeletak seorang gadis yang lemah, lunglai dan takberdaya. Tubuhnya menggigil dengan luar biasa. Gigi rahang atas dan bawahnya saling beradu hingga berbunyi. Dan wajahnya semakin pucat dan tubuhnya terlihat semakin lemah kondisinya.
Bagai pria lain yang kurang ajar, mereka tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti ini. Bisa jadi nasip gadis ini menjadi semakin malang karena diperkosa berkali-kali.
Lalu bagaimana dengan Hasan?!
Apa yang akan dia lakukan??
Apakah dia akan menolongnya? Ataukah dia tetap akan menjaga kehormatannya untuk tidak menyentuh wanita? Ataukan ada setan yang masuk ke pikiran Hasan dan membuatnya bertindak diluar keimanannya yang ia pupuk selama ini?!
Ingat kisah Nabi Adam As?! Mengapa Allah Swt menurunkannya ke Bumi? Tentu saja karena bujuk rayu iblis yang terkutuk!!
Kini, Hasan merasa jika jantungnya berdetak dengan sangat kencang sekali. Tubuhnya gemetaran. Dan tiba-tiba saja keringat dingin mengucur dengan sangat deras dari tubuhnya. Ia memandangi tubuh gadis yang berada di depannya itu dengan pandangan yang berbeda.
“Astaghfirullah …”desis Hasan sambil menarik nafas panjang.
Tiba-tiba saja, kini nafasnya menjadi pendek dan sesak. Ia benar-benar bingung dan tak kuasa untuk mengendalikan diri. Lalu, kira-kira keputusan apa yang akan dilakukannya?
Guyuran hujan dari langit seakan digerojok dengan lebih kencang. Kilat demi kilat berkilauan dan suara gemuruhnya terdengar semakin menggelegar. Angin malam di Masjid Al Imdad itu semakin mengamuk dan berebut untuk memeluk tubuh Hasan.
Akhirnya Hasan melakukan sesuatu pada tubuh gadis itu. Namun keputusan apa yang dia ambil, kita tidak ada yang tahu. Karena malam itu begitu istimewa dan menggoda.
Jika kamu ingin bertanya, tanyakan pada rintik-rintik air hujan yang jatuh membasahi bumi pada saat itu. Atau kamu juga bisa menanyakannya pada buaian angina malam yang setia melambai-lambai di kala malam itu.
Jangan penasaran!
Temukan semua jawabannya pada ulasan Bab berikutnya. Novel “RINDU” Karya Ali Akbar Navis.